Kata Mereka Sedekah Laut, Punya Nilai Positif !!

Tradisi sedekah laut sempat diprotes sekelompok orang. Padahal acara budaya yang punya potensi wisata ini, menyimpan nilai luhur bangsa Indonesia. Hal ini disampaikan Pakar Antropologi Universitas Indonesia, Jajang Gunawijaya dalam perbincangan dengan detikTravel di Kampus FISIP UI, Depok, Jumat (19/10/2018). Menurut Jajang, sedekah laut jangan dipahami setengah-setengah. Ada pranata sosial yang positif di dalamnya.

“Upacara itu juga upacara kegembiraan rakyat, ajang unjuk budaya, kesenian, pergaulan dan untuk memelihara hubungan sosial di antara mereka. Kan mereka tiap hari melaut kapan bertemunya? Dengan ada upacara semacam itu jadi ada interaksi sosial di antara mereka,” kata Jajang. Jajang meminta jangan buru-buru menghakimi negatif terhadap sedekah laut. Ada banyak nilai positif yang orang harus tahu. Setidaknya ada 5 nilai local wisdom yang penting.

“Pertama ini ajang pelestarian seni budaya, dengan ajang itu otomatis terpelihara, diperbarui, dijaga, dipentaskan dan disosialisasikan. Yang kedua nilai kebersamaan termasuk nilai gotong royong,” kata kata Jajang. Ketiga menurut Jajang adalah nilai silaturahmi di antara mereka, ajang saling mengenal. Yang keempat menurut Jajang adalah nilai mengungkap kegembiraan. Jajang meminta orang-orang paham betapa keras kehidupan nelayan dan petani tradisional.

“Hidup nggak selamanya senang. Petani ada ancaman gagal panen, nelayan ada ancaman badai. Hidup ini penuh penderitaan, tapi manusia perlu keseimbangan. Di satu sisi ada penderitaan, di satu sisi ada kegembiraan. Nah ini ajang untuk mengungkapkan kegembiraan bersama,” kata Jajang.

Local wisdom kelima menurut Jajang upacara laut ini memberi semangat hidup. Nilai-nilai luhur inilah yang masyarakat luas juga harus tahu dan menjaganya. “Yang terakhir untuk memberi semangat hidup sebagai suatu komunitas,” kata pria yang menjabat sebagai Direktur Lembaga Penelitian Pengembangan Sosial Politik (LP2SP) FISIP/ Kabid Soshum Vokasi UI ini.

Kalau dari perayaan budaya itu ada yang dinilai tidak sesuai dengan ajaran agama, menurut Jajang bukan tradisi budayanya dihapus, tapi diperbaiki. Dia mengatakan, tradisi harus terbuka untuk perbaikan dan inovasi, tapi tradisi perlu tetap ada sebagai identitas budaya.

“Saya tidak setuju kalau ada orang bilang ini musyrik lalu dihapuskan, kalau kayak begitu habis budaya kita. Kita akan kehilangan identitas diri sebagai bangsa yang kaya budaya dan identitas seni. Biarkan budaya itu ada dan kalau perlu diperbarui. Supaya nggak musyrik bagaimana? Begitu kan? Inovasi memang diperlukan, tapi jangan dihapus,” tutupnya. Tradisi Lomban atau sedekah laut di Jepara (Wikha Setiawan/detikTravel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *